Planet Saturnus dengan cincin pipihnya mungkin adalah merupakan citra astronomi yang paling mudah dikenal untuk orang-orang pada masa purba, Saturnus adalah bagian dari planet terjauh yang diketahui. Mereka memberikannya dengan nama ayah dari semua dewa. Para astronom kala itu mencatat orbit Saturnus yang berlangsung 29 tahun dan beranggapan bahwa planet tersebut bergerak sangat lambat. Lapisan atmosfernya terdiri atas hidrogen dan strukturnya serupa dengan Jupiter, namun kerapatannya lebih rendah. Saturnus begitu ringan sehingga dapat mengambang pada air. Seperti halnya dengan Jupiter, Saturnus berputar dengan kecepatan yang tinggi dan menyebabkan ekuatornya keluar. Saturnus juga memiliki medan magnet yang besar. Angin di atmosfer atas Saturnus dapat mencapai hingga 1.800 km/jam, tetapi hanya satu sistem badai utama yang baru ditemukan, yakni Bintik Anne, yang namanya berasal dari Anne Bunker, ilmuwan pesawat Voyager.
GAMBAR DARI ABAD KE-17
Pada tahun 1675, direktur Observatorium Paris yang berasal dari Bologna, Italia, Gian Domenico Cassini, menemukan bahwa cincin Saturnus tersebut tidak terlihat padat. Tampaknya terdapat dua cincin dengan celah berwarna gelap yang memisahkan antara bagian dalam dengan bagian luar. Gambar yang dibuat pada tahun 1676, memperlihatkan celah yang disebut dengan Pembagian Cassini untuk menghormatinya.
SATURNUS DAN CINCIN-CINCINNYA
Cincin Saturnus tampak terlihat padat dari Bumi dan pesawat Voyager memperlihatkan bahwa cincin tersebut terdiri atas berbagai ukuran potongan es. Keterpantulan tinggi dari partikel es tersebut membantu menjelaskan luminositas Saturnus pada langit malam. Cincin-cincin Saturnus memiliki ketebalan 30 m, tetapi lebar secara keseluruhan cincin lebih dari 272.000 km.
PANDANGAN YANG BERUBAH
Sumbu Saturnus terlihat miring dengan cincin-cincin berada di sekeliling ekuatornya. Oleh karena itu, pada saat planet miring, cincin pun melarang. Hal ini berarti cincin dapat berubah dalam penampilan tergantung dari waktu pengamatan yang dilakukan di tahun Saturnus, yaitu sama dengan 29,5 tahun Bumi. Sudut cincin tampak menjadi berubah menurut letak Saturnus dan Bumi pada masing-masing orbitnya. Pada saat cincin berada di tepi, maka tampak seperti planet rangkap tiga, sebagaimana yang telah ditemukan oleh Galileo pada tahun 1612.
MODEL SATURNUS
Planetarium dan oreri digunakan untuk dapat menunjukkan bentuk dan satelit planet. Planetarium tersebut memperlihatkan Saturnus dengan delapan bulan yang telah dikenal pada abad ke-19. Model ini tidak sempurna karena tidak dapat memperlihatkan ukuran relatif planet dan orbit dari satelit-satelitnya.
POLA CUACA SATURNUS
Pada tahun 1981, Voyager 2 berhasil mengambil foto dari jarak 7 juta km yang memperlihatkan pola cuaca dari belahan utara Saturnus. Awan badai dan bintik putih adalah merupakan ciri cuaca Saturnus yang terlihat.
MELIHAT CINCIN
Pada saat Galileo pertama kali menemukan cincin Saturnus di tahun 1610, ia salah menafsirkan dengan apa yang dilihatnya. Galileo berpikir bahwa Saturnus adalah merupakan planet rangkap tiga. Baru pada tahun 1655 cincin tersebut dapat diidentifikasi dan dideskripsikan oleh ilmuwan dan astronom yang berasal dari Belanda, Christiaan Huygens, dengan menggunakan teleskop besar yang dia buat sendiri.
DETAIL DILIHAT DARI DEKAT
Pada saat Galileo mempelajari Saturnus pada tahun 1612, kedua planet tambahan yang menurut Galileo telah dilihat pada tahun 1610, menghilang. Pada tahun 1616, kedua planet tersebut muncul kembali, lebih datar daripada sebelumnya. Yang dilihat oleh Galileo adalah merupakan cincin Saturnus pada sudut yang berbeda. Tiga set cincin dapat terlihat dari Bumi. Cincin “A” berisikan orbit sari bulan bagian dalam. Cincin “B” di tengah, dilintasi oleh garis-garis yang mirip seperti jari-jari roda. Para ilmuwan berpendapat mungkin terdapat partikel debu yang menggantung di atas cincin karena adanya medan magnet planet. Pada tahun 1979, Pioneer 11 berhasil menemukan cincin luar yang terang, dikenal sebagai cincin “F’. Pada penglihatan pertama, tampaknya seperti berjalin, tetapi penelitian mendalam menunjukkan bahwa jalinan tersebut adalah cincin biasa yang ditarik keluar garis oleh gaya gravitasi bulan yang berada di sekitarnya.
BULAN-BULAN SATURNUS
Semua bulan pada Saturnus terbuat dari es, kecuali bulan terbesarnya yakni Titan. Enceladus adalah bulan yang relatif kecil serta menunjukkan bukti adanya perubahan baru. Beberapa bagian bulan penuh dengan kawah, sedangkan pada bagian lainnya licin. Hal ini diperkirakan karena adanya pengaruh dari pelelehan internal. Enceladus memiliki diameter 500 km.
FAKTA MENGENAI SATURNUS
- Periode sidereal 29,5 hari Bumi
- Suhu di puncak awan -180°
- Periode rotasi 10 jam 40 menit
- Jarak rata-rata dari Matahari 1.430 juta km
- Volume (Bumi = 1) 744
- Massa (Bumi = 1) 95,18
- Rapatan (air = 1) 0,69
- Diameter ekuatorial 120.540 km
- Jumlah satelit 18
Brian Rendra
Sumber :
JENDELA IPTEK, ASTRONOMI, BALAI PUSTAKA, HAL 52-53
