Semua keping serta serpih batu yang merupakan pecahan batu padat permukaan Bumi akan mengendap di suatu tempat sebagai sedimen. Lingkungan pengendapan sangat berbeda antara satu sama lain dan sangat mempengaruhi ciri sedimen yang dihasilkan. Apabila keadaannya tepat, pada akhirnya endapan tersebut akan berubah menjadi batuan sedimen. Lingkungan tempat pengendapan pun beragam, dari lereng curam pada pegunungan, lembah sungai, pantai, hingga dasar laut dangkal di pinggir pulau atau dasar laut dalam. Sedimen yang terletak pada tempat-tempat pengendapan tersebut kembali terkikis tidak lama setelah mengendap. Kikisan tersebut terjadi karena batu kerikil yang semula tertinggal aliran banjir kemudian akan terbawa lagi jauh menuju ke hilir oleh aliran banjir yang terjadi berikutnya. Selama itu, batu kerikil akan mengalami proses pelapukan dan terangkut ke tempat yang lebih jauh. Tempat terbaik bagi endapan agar dapat berubah menjadi batu sedimen yakni daerah yang permukaannya tenggelam atau yang permukaan lautnya naik. Dalam keadaan demikian, satu lapis endapan akan tertimbun oleh lapisan lain. Setelah tertimbun, endapan tersebut mendapat tekanan dan mengeras menjadi batu.
PROSES PEMBENTUKAN PANTAI
Tepi pantai adalah merupakan tempat berlangsungnya suatu perubahan alam yang terjadi dengan secara terus-menerus. Cara memecahkan ombak di pantai akan menyebabkan timbunan kerikil terkikis bersih dan kemudian hanyut. Namun, pantai juga memiliki sebuah siklus musiman. Pasir pindah ke pantai pada musim panas, sementara di musim dingin, air pasang mengangkut pasir dan mengendapkannya di lepas pantai.
SUNGAI BERTINGKAT
Pada saat air sungai mengalir sebagai akibat dari menurunnya permukaan laut, maka dataran lama dengan aliran derasnya akan terabaikan di atas aliran sungai. Timbunan yang terkikis disebut dengan teras. Teras sungai terbuat dari pasir-pasir lama serta kerikil yang sebelumnya merupakan bagian dari dasar sungai.
SUNGAI BERKELOK
Bagian lembah sungai yang lebih datar menjadi tempat sungai untuk meninggalkan endapan yang telah terkumpul selama dalam perjalanan alirannya dari lereng sungai yang berarus cepat. Lembah sungai yang berliku terkadang datar dan lebar. Aliran sungai bergerak seperti ular yang menjalar, arah alirannya akan berubah sesuai dengan arus terderas yang mampu menghasilkan kelokan besar. Apabila kemudian aliran sungai memotong jalan melalui leher kelokan, maka kelokan sungai yang ditinggalkan dikenal sebagai danau punuk sapi.
SUNGAI PASIR
Erosi sering terjadi di daerah sungai yang curam, sedangkan pengendapan lebih banyak terjadi di daerah banjir. Sungai mengikis timbunan yang terdapat pada lekukan luar di mana arus air paling deras dan kemudian sedimen diendapkan kembali di lekukan dalam dimana arus air lemah. Dengan cara tersebut, sungai kemudian membangun lembah yang lebar yang disebut daerah banjir, yang terbuat dari bahan-bahan endapan.
MEMBENTUK DELTA
Sedimen mengendap pada suatu daerah yang kecepatan air sungainya berkurang. Apabila hal ini terjadi saat air sungai mengalir ke laut atau danau, maka akan terbentuk delta yang lambat laun akan menjadi daratan baru. Sebagai contoh, pasir dan lumpur sungai yang mengendap di muara Sungai Gangga dan Brahmaputra di Teluk Bengal, India. Bentuk delta serta kecepatan pembentukan daratan dipengaruhi oleh banyak hal, terutama kecepatan dalam proses pengendapan di daerah delta.
PEMBENTUKAN LUMPUR MUARA
Air sungai mengalir serta mengalami pasang surut di muaranya dan kemudian tiba-tiba menjadi berlumpur. Hal tersebut dapat terjadi karena air asin telah menyebabkan partikel-partikel tanah liat yang mengapung dalam air tawar menggumpal menjadi partikel-partikel yang lebih besar. Serpihan tanah liat cukup tipis sehingga tetap mampu untuk mengapung di dalam air, sedangkan gumpalannya terlalu besar sehingga mereka akan tenggelam dan mengendap ke dasar sungai. Oleh karena itu, jumlah sedimen yang semakin banyak akan turut membantu dalam proses pembentukan delta sungai.
Brian Rendra
Sumber :
JENDELA IPTEK, BUMI, BALAI PUSTAKA JAKARTA, HAL 56-57
