Bagaimana Awal Mula Ilmu Kelautan Modern Di Mulai?

785 0

BAGAIMANA AWAL MULA ILMU KELAUTAN MODERN DIMULAI?

Awal mula dari ilmu kelautan modern dimulai pada akhir abad ke-19 dengan melakukan survei laut yang dilakukan oleh kapal penjelajah Inggris Challenger. Amerika Serikat mengajukan gagasan untuk menjelajahi laut Atlantik serta Pasifik, dengan Alexander Agassiz sebagai pimpinan. Pada penjelajahan Atlantik turut pula kapal Jerman dan Swiss. Pemerintah Inggris dibujuk agar dapat menyokong ekspedisi Challenger untuk mempertahankan gengsi bangsa Inggris di kalangan internasional. Ketika itu ekspedisi Challenger diharapkan dapat menjawab pertanyaan yang timbul. Apakah laut yang dalam juga dihuni makhluk hidup? Dapatkah arus laut diukur untuk membenarkan suatu teori tentang peredaran air laut? Apakah sedimen yang terletak di dalam dasar laut sama dengan kapur yang kita kenal? Challenger mampu untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, namun peredaran air laut tetap dipertanyakan sampai akhir penjelajahan. Sekarang telah diketahui bahwa banyak faktor yang turut mempengaruhi arus laut. Dengan melakukan pengukuran yang dalam, Challenger berhasil menemukan pegunungan yang terdapat di bawah laut di tengah-tengah Lautan Atlantik, dan juga menemukan Palung Mariana, dengan kedalaman 11.033 m atau 36.000 kaki di bawah Lautan Pasifik.

MEMBAYANGKAN KEDALAMAN 

Pada tahun 1869, seorang penulis berkebangsaan Prancis, Jules Verne, menulis novel yang berjudul 20.000 Leagues Under The Sea. Buku tersebut menceritakan kapal selam dengan memiliki teknologi yang sudah maju, jauh melebihi kemampuan pada saat itu. Pada abad ke-20 teknologi kapal selam Verne adalah merupakan hal yang biasa. Untuk menikmati hasil karya Verne, para pembaca harus dapat membayangkan kembali masa lampau ketika hal tersebut masih fiktif, karena ia menulis mengenai daerah yang belum dipetakan.

BERAKHIRNYA TEORI BAHWA BUMI ITU DATAR 

Pada abad ke-16 sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh seorang Portugis yang bernama Ferdinand Magellan mengarungi lautan keliling dunia, dan pada akhirnya membuktikan bahwa Bumi itu tidak datar. Magellan berusaha untuk mengukur kedalaman lautan sepanjang pelayarannya. Namun, awak kapal biasanya akan selalu mengingat daratan. Di sini air lebih dangkal daripada kedalaman yang terdapat pada samudra, dan sedimen yang berada di dasarnya adalah berasal dari daratan.

HIDROMETER 

Contoh air laut dibawa oleh Challenger sebagai upaya untuk mengetahui perbedaan kadar garam dan suhunya yang berhubungan dengan kedalaman serta letak laut. Hidrometer tersebut mengukur kadar garam air laut. Arus hangat di Lautan Atlantik telah lama diketahui dan kemudian dipetakan oleh Benjamin Franklin pada abad ke-18. Challenger menemukan bahwa suhu air akan lebih rendah di tempat yang lebih dalam. Hal tersebut dapat terjadi karena kompensasi arus air yang dingin.

SEJARAH PELAYARAN 

Kisah pelayaran Challenger berlangsung selama tahun 1872 hingga 1875 dan berlayar sepanjang 111.000 km atau 59.900 mil laut, menelusuri lautan dan mengumpulkan contoh-contoh materi laut Dalam ekspedisi tersebut tidak mengikutsertakan ahli fisika yang sebenarnya mampu untuk menyelidiki kadar garam, suhu dan kepekatan air, angin, efek penguapan, kemiringan dasar laut dan curah hujan, yang kesemuanya dapat mempengaruhi peredaran air laut.

DI ATAS KAPAL 

Ahli ilmu alam Challenger menggambarkan sedimen pada dasar laut dan hubungannya dengan kehidupan yang terdapat di laut. Galian lumpur digunakan sebagai contoh dari sedimen tersebut. Contoh sedimen tersebut menunjukkan bahwa plankton Globigerina hidup pada permukaan air yang terdapat di hampir seluruh lautan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pada saat Globigerina mati, maka kulitnya tenggelam ke dasar laut dan membentuk lumpur karbonat, yang kemudian dikenal sebagai lumpur Globigerina.

MENGGALI KEDALAMAN LAUT 

Galian lumpur beserta isi dasar laut digunakan untuk memperoleh contoh-contoh materi yang terdapat di dalam dasar laut. Walaupun contoh air menunjukkan bahwa Globigerina hidup pada permukaan Atlantik yang dangkal dan masih terkena sinar Matahari, namun hasil galian dari dasar laut justru membawa tanah liat yang kemerahan dan bukan lumpur. Semakin dalam air, maka semakin kecil tanda-tanda adanya kehidupan Globigerina di dasar laut. Tim Challenger memperkirakan dengan tepat bahwa pada kedalaman hingga ke dasar laut, kulit Globigerina telah terlarut, sedangkan tanah liat merah adalah merupakan debu yang terbawa dari daratan.

MENGUMPULKAN BUKTI 

Pengiriman serta penerbitan dari hasil pekerjaan yang dihasilkan oleh Challenger memakan waktu 15 tahun. Contoh materi tersebut dimasukkan ke dalam botol dan kemudian diberi label yang berisi keterangan mengenai derajat, lintang serta bujur laut, kedalaman dari air tempat contoh diambil, dan jenis bahan dasarnya yakni lumpur atau tanah liat misalnya.

PENGUKUR KECEPATAN

Untuk mengukur arus laut, maka harus diketahui jarak yang telah ditempuh kapal. Pengukur tersebut memiliki tiga papan angka yang berputar secara bersamaan pada saat baling-baling perahu berputar sehingga dapat untuk mengukur jaraknya. Ketika itu kapal penjelajah menggunakan tali rami untuk mengikat semua alat yang akan dimasukkan ke dalam laut. Namun, tali tersebut menjadi sangat berat pada saat dicelupkan ke dalam air laut sehingga pengukuran kedalaman laut sangat membutuhkan waktu yang lama hanya untuk menaikkan atau menurunkan tali. Perahu Challenger justru mencobanya dengan menggunakan kawat piano.

MENGUKUR SUHU

Pada awalnya tim Challenger bekerja dengan menggunakan termometer yang hanya mengukur suhu terendah dan tertinggi saja. Termometer tersebut mencatat suhu air yang dalam sekalipun. Sebenarnya, air tersebut ditarik menuju ke kapal dengan melewati air yang lebih hangat atau dapat juga air yang lebih dingin. Challenger menemukan bahwa air pada permukaan laut Antartika lebih dingin daripada air pada ketinggian 350 meter.

Brian Rendra

Sumber :

JENDELA IPTEK, BUMI, BALAI PUSTAKA, HAL 30-31

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact Us